ASSALAMUALAIKUM   Sekedar barisan kata-kata yang Insya Allah jujur apa adanya, refleksi dari suatu perjalanan dan pengalaman hidup seorang ayah, suami dan orang yang ingin selalu menjadi lebih baik dalam hidupnya bagi keluarga dan  lingkungannya. DISCLAIMER  Semua tulisan yang ada merupakan pendapat pribadi dan atau berasal dari saduran dan atau rangkuman dari sumber lain yang tidak bisa dijadikan referensi atau hujah yang benar. Penulis tidak bertanggung jawab atas segala huru hara, bencana sosial dan akibat buruk lainnya ,yang diakibatkan atas referensi yang ditujukan pada blog ini. Namun demikian penulis tetap berusaha menghindari tulisan yang bersifat sara.

oleh Taufik Ismail

1 Seminggu lalu datanglah undangan Untuk kami anak-anak penghuni Panti
Asuhan Diantarkan seorang ibu dan anak gadisnya Sekolahnya kira-kira
di SMA Mereka naik Corolla biru Dari pakaian, cara bicara dan perilaku
Kelihatan tamu ini orang gedongan Golongan yang hidup lebih dari
kecukupan.

Mereka mengundang anak-anak Panti Asuhan Untuk ikut acara ulang tahun
Rebo jam tujuh malam.

Dan berangkatlah kami pada waktu yang ditentukan Berjumlah dua puluh
tiga, termasuk bapak dan ibu asrama Jalan kaki bersama, karena
jaraknya cuma terpisah sepuluh rumah saja Rombongan disilakan masuk
dengan ramah Dan anak-anak berusaha duduk di belakang-belakang saja
Tapi disuruh berbaur dengan tamu-tamu lainnya Para remaja belasan
tahun Mereka sehat-sehat, harum-harum Berbaju mahal dan tembem-tembem
pipinya Saya berjuang melawan sifat minder saya Duduk di tengah ruang
tamu yang luas

Di atas karpet bersila, pegal dan canggung Di antara jajaran barang
antik dan macam-macam perabotan Di bawah lampu keristal
bergelantungan.

…tidak logis saya minta
kado Harus mama yang diberi kado…

Tapi alangkah aku jadi heran Tidak ada acara potong kue dan tiup lilin
Tidak ada tepuk tangan mengiringi Lagu Hepi-Bisde-Tuyu
Hepi-Bisde-Tuyu.

2Lalu seorang remaja membaca Surah Luqman Dengan suara amat merdunya
Dan suaranya berubah jadi untaian mutiara Yang berkilauan jadi kalung
di leher pendengarnya.

Kemudian Lia yang berulang tahun Berpidato sangat mengharukan Dalam
acara seperti ini Bukan saya yang jadi pusat perhatian Diperingati
atau dihargai

Tapi mama Ya, mama kita Ibunda kita Dan ayahanda. Ibunda dan ayahanda
Pusat perhatian kita.

Hari ini, enam belas tahun yang lalu Mama melahirkan saya Posisi saya
sungsang Saya terlalu besar Jadi mama harus sectio Caesaria Mama
dibedah, berdarah-darah Seluruh keluarga khawatir dan berdoa Di luar
ruang operasi duduk menanti berita Dalam kecemasan luar biasa Tapi
alhamdulillah kelahiran selamat Walau pun mama sangat menderita

Sekarang ini, enam belas tahun kemudian Ulang tahun saya dirayakan
Saya pikir, tidak logis saya jadi pusat perhatian Harus mama yang jadi
pusat perhatian Mama. Bukan saya Saya pikir, tidak logis saya minta
kado Harus mama yang diberi kado

Anak gadis itu berhenti sebentar Dia sangat terharu Kemudian dia
mengambil sebuah bungkusan Kertas berkilat, diikat pita berbentuk
bunga

Mama Terima kasih mama, terima kasih Mama telah melahirkan saya
Dengan susah payah Mama menyabung nyawa Berdarah-darah Persis malam
ini, 16 tahun yang lalu Terimalah rasa terima kasih ananda Tidak
seberapa harganya.

Mamanya berdiri Terpukau pada kata-kata anak gadisnya Terharu pada
jalan pikirannya Yang dia tak sangka-sangka Dia langsung memeluk
anaknya Terguguk-guguk menangis Keduanya tersedu-sedu Hadirin
menitikkan air mata pula Suasana mencekam terasa Dan hening agak lama

3Kemudian kakak pembawa acara berkata Para hadirin yang mulia Ini
memang kejutan bagi kita Karena dengan tahun yang lalu acara ini
berbeda Lia tidak mau tiup lilin jadi acara Karena ditemukannya di
ensiklopedia

Manusia di Zaman Batu di Eropah Percaya pada kekuatan nyala lilin,
begitu tahayulnya Bisa mengusir sihir, roh jahat, leak dan memedi
begitu katanya Termasuk sijundai, setan, hantu, kuntilanak dan
gendruwo Dan itu berlanjut ke zaman Romawi kuno Lalu dikarang lagi
berikutnya superstisi Yaitu apabila lilin-lilin itu sekali tiup
nyalanya semua mati Maka akan terkabul apa yang jadi cita-cita di
dalam hati.

Lia tidak mau acara ulang tahunnya oleh tahayul jadi bernoda Acara
yang ditentukan oleh budaya jahiliah zaman purbakala Katanya: Kok
tiupan nyala 16 lilin bisa menentukan nasib saya? Allah yang
menentukan nasib saya

Sesudah kerja keras saya Saya tidak mau dibodoh-bodohi tahayul Walau
pun itu datangnya dari barat atau pun timur juga

Saya tidak mau dibodoh-bodohi budaya mereka Minta kado dari Papa dan
Mama Minta kado dari keluarga dan kawan-kawan saya.

Saya tidak mau cuma jadi kawanan burung kakaktua Burung beo yang
pintar meniru adat Belanda dan Amerika Dalam acara ulang tahun kita
Begitu katanya.

Sesudah bertangis-tangisan dengan ibunya Berkatalah yang berulang
tahun itu

Hadiah paling saya harapkan dari kalian Adalah doa bersama Sesudah
hamdalah dan salawat Karena saya ingin jadi anak yang baik laku Jadi
perhiasan di leher ibuku Jadi penyenang hati ayahku Rukun dengan
kakak-kakak dan adik-adikku Bertegur-sapa dengan semua tetangga Dan
kelak ketika dewasa Berguna bagi Indonesia.

4Anak yatim piatu yang mendapat undangan itu Lihatlah bersama
kawan-kawannya Disilakan makan bersama-sama Dengarlah kisah kesannya
kini:

Dalam acara makan kunikmati nasi Beras Rajalele yang putih gurih
Dendeng tipis balado, ikan emas panggang Dan udang goreng, besar dan
gemuk-gemuk Belum pernah aku memegang udang sebesar itu

Di asrama ikan asin dan tempe Seperti nyanyian yang nyaris abadi
Kadang-kadang makan pun cuma sekali sehari.

Ketika kulayangkan pandangku ke depan Kulihat tuan rumah yang baik
hati itu Bapak dan ibu itu Berdiri bersama Lia anak gadisnya Berbicara
amat mesranya

Kubayangkan ayahku almarhum Mungkin seusia dengan bapak ini Beliau
meninggal ketika umurku setahun

Kubayangkan ibuku almarhumah Wafat ketika aku kelas enam SD Mungkin
seusia pula dengan ibu itu

Tidak pernah aku merayakan ulang tahunku

Tidak pernah.

Semoga sorga firdaus jua Bagi ibu bapakku

Panas mengembang di atas pipiku Tak tertahan Titik air mataku.

1980, 2007

Comments No Comments »

“Mksh”, begitu balasan sms dari Bapak. Terasa pada rentang beberapa tahun belakangan ini, ucapan terima kasih dari beliau sering terucapkan. Sekalipun sederhana tapi bagi saya tetap sesuatu yang membuat saya merenung.

Sungguh aneh memang bagi seorang anak untuk menerima ucapan terima kasih dari orang tuanya. Rasanya tak pantas bagi saya untuk menerimanya. Apalagi saya sendiri sering merasa kurang berterima kasih atas segala pengorbanan orang tua. Meski pada akhirnya saya tersadar bahwa saya harus menjadi anak yang tidak durhaka, pun ucapan terima kasih saya pada akhirnya tidak akan cukup melunasi apapun yang telah orang tua saya berikan.

Meski saya yakin seyakin-yakinnya bahwa ucapan terimakasih dari Bapak adalah tulus,tanpa adanya udang dibalik batu,  saya sendiri merasakan bahwa kata itu merupakan sentilan dari Allah. Bahwa saya sebagai anak, ternyata masih jauh dari apa yang seharusnya dilakukan.

Beliau tidak meminta apa-apa dari saya. Kebahagiaan saya adalah kebahagiaan beliau.  Kesusahan saya adalah kesusahan beliau. Anak seusia saya yang seharusnya sudah mulai memberikan balasan kepada orang tua pun kadang kala masih menumpahkan segala keluh kesah kehidupan terhadap beliau. Dan beliau tanpa sungkan akan menolong dengan tanpa imbalan pun.Wow.

Ketulusan orang tua terhadap anak, rupanya makin disadari tatkala saya sendiri mempunyai anak. Sebegitu sayangnya saya terhadap anak, yang selalu mengingatkan saya bahwa sebegitu sayangnya orang tua terhadap saya, sedari kecil. Marah, jengkel, bentakan dan teriakan hanyalah ekspresi dan cara lain dalam mengungkapkan rasa sayang kita terhadap anak, yang kadang memang susah bagi “anak-anak” untuk memahaminya.

Maka untuk semua yang telah beliau berikan, Terima Kasih!!

Comments No Comments »

Saya terharu ketika baca tulisan seorang dokter muda. Dibalik sikap skeptis saya terhadap para dokter( baca disini ), ternyata masih ada dokter yang setidaknya membuat saya masih bisa berharap. Tulisan ini saya ambil dari Cause Facebook “DUKUNGAN BAGI IBU PRITA MULYASARI, PENULIS SURAT KELUHAN MELALUI INTERNET YANG DITAHAN” , ditulis oleh Julian Sunan. (Semoga idealismenya tetap pada tempatnya sampai akhir hayatnya)

Kasus Ibu Prita Mulyasari dari Sisi Dokter : kalau dokter boleh mengeluh…

“I solemnly pledge myself to consecrate my life to the service of humanity”

Sebelumnya, saya sampaikan dukungan sepenuhnya kepada Ibu Prita Mulyasari dan keberadaan Cause ini, semoga dapat memberikan wacana yang menarik perhatian, juga tindakan, dari para pengguna Facebook maupun pihak yang berwenang, terhadap satu dari sekian banyak kasus sengketa yang marak terjadi mengenai layanan kesehatan Indonesia, baik yang mengemuka maupun yang tak terpublikasikan. Perkenankanlah saya sedikit beropini, berdasarkan dari kacamata sempit sebagai seorang dokter yg saya alami.

Saya seorang dokter. Dilantik dan mengucapkan Sumpah Dokter di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Yogyakarta tahun 2007. Baru sepersekian detik memang pengalaman saya bila dibanding ratusan ribu sejawat senior di Indonesia. Dan baru sepersekian detik itu pulalah saya melangkah dalam sebuah hubungan suci antara dokter dengan pasien. Ya, hubungan dokter dengan pasien adalah hubungan suci antara manusia yang membutuhkan pertolongan dengan manusia pemberi tolong, bukan transaksi ataupun jual beli, itulah setidaknya yang diajarkan kepada saya selama kuliah.

Namun sepersekian detik itulah mata saya terbuka, bahwa dunia layanan kesehatan yang baru saya masuki ini tidaklah seindah teori yg terajarkan. Bilamana masyarakat awam menikmati satu-dua kasus sengketa layanan kesehatan (yg kemudian dgn mudahnya memberikan salah-julukan “malpraktek”) melalui publikasi media harian — kami menghadapi dan berjalan di titian sempitnya puluhan kali dalam sehari. Titian yg kuat lemahnya terbangun saat kami menjalani pendidikan, dan sedikit-demi-sedikit tergerus pengaruh sistem dan lingkungan, juga kebutuhan materi untuk penghidupan.

Pembaca yg terhormat, apa yg anda pikirkan ketika anda sakit dan datang ke dokter? berapa banyak dari anda yg berpikir bahwa dokter adalah layanan penjual jasa? layaknya bengkel, penjual pulsa, penjual gado-gado? dimana anda mengatakan apa yg anda butuhkan, kemudian dokter memberikan apa yg anda butuhkan, kemudian anda membayar, kemudian anda pulang dgn kebutuhan yg telah terpenuhi?

Itulah sistem yg telah terbentuk dan kita jalani saat ini. Sistem telah menempatkan dokter (juga dokter gigi, perawat dkk) sebagai layanan penjual jasa. Jual-Beli! transaksi antara penjual dan pembeli. Berbanggalah, Indonesia hanya satu penjiplak sistem transaksional yg (agak kurang) sukses. Lihatlah negara tetangga kita Singapura yang luar biasa sukses, atau cetak birunya di Amerika Serikat dan negara-negara Eropa.

Dengan adopsi pola sistem jual-beli jasa kesehatan, maka dokter dicetak sebagai alat penjual jasa (baca= mesin). Penjual jasa yg sukses cenderung dinilai berdasar cakupan konsumen, kepuasan konsumen terhadap layanan, dan tentunya keuntungan yang diterima oleh penjual layanan tersebut. Berapa banyak dari anda yang berpikir bahwa dokter yg bagus adalah dokter yg pasiennya banyak, pasiennya banyak yg sembuh dan pulang dengan bahagia (setimpal dengan bayaran yg diberikan), dan dokternya menghasilkan banyak uang dari apa yg dikerjakannya? berapa banyak dari anda yg berpikir bahwa semakin terkenal dan megah RS semakin baik pula angka kesembuhannya? berapa banyak dari anda yg berpikir bahwa berobat ke RS di negara tetangga lebih menjanjikan kesembuhan, setimpal dengan harganya yang menawan? berapa banyak dari anda yang berpikir bahwa dokter asing lebih berkualitas dari dokter Indonesia (seperti alat elektronik saja ya)? berapa banyak dari anda yang berpikir dokter spesialis lebih pandai dari dokter umum biasa?

Lalu apa yg terjadi bila seandainya layanan itu mengecewakan? tak memberi kesembuhan justru kesakitan? sudah dibayar, bukannya sembuh malah tambah penyakit. Sistem transaksional yg dianut tersebut memberi peluang tuntutan kesalahan yang berujung pada permintaan pemberian ganti rugi materi bukan?. Maaf bila dramatisir dari saya membuat dokter benar-benar mirip bengkel motor, “garansi 3 hari, bila rusak berlanjut kami akan mengganti”. Anda tidak salah, pembaca yg budiman. Sistemlah yang cenderung menyusun sudut pandang sebagian dari anda menjadi sudut pandang seorang konsumen. Dan itu dibenarkan dengan hukum dan perundangan yang berlaku.

Rupanya sistem tersebut tidak hanya membentuk pasien menjadi bercara pandang konsumen yang membeli suatu layanan. Sistem layanan penjual jasa kesehatan tersebut juga berpengaruh terhadapi DOKTER dan para pemberi jasa kemanusiaan pula. Sadarilah bahwa dokter dan penyedia layanan kesehatan (klinik, RS) telah memposisikan diri mereka sebagai penjual. Orientasi beranjak dari kemanusiaan menjadi BISNIS.

Lihatlah berapa banyak dokter, klinik dan RS yang berupaya menjaring pasien sebanyak-banyaknya. Tebar iklan di mana-mana. Seandainya papan nama praktek dokter tak ada aturan ukurannya, pastilah di jalan-jalan kota anda penuh dengan baliho bertulis nama dan alamat dokter seisi kota. Seperti hanya RS-RS di negara tetangga yang jor-joran promosi di kantor-kantor para pengusaha.

Lihatlah berapa banyak dokter, klinik dan RS yang berupaya memberikan layanan luar biasa mewah bagaikan istana, fasilitas hotel bintang lima, memberi nama dengan embel-embel “internasional” yg membahana, melengkapi peralatan penunjang diagnosis dengan kecanggihan luar biasa, agar pasien tertarik untuk periksa di sana. Semakin banyak pasien semakin lancar uang mengalir di bisnis kerumahsakitan.

Lihatlah berapa banyak dokter, klinik dan RS yang berupaya mentarget angka kesembuhan dengan menghalalkan segala cara. Melacak diagnosis mengandalkan aneka pemeriksaan laboratorium yang merajalela tak berguna, padahal hanya demam dan varicella biasa. Justru pasien malah merasa bangga, dokternya memeriksa banyak parameter laboratorium karena teliti. Karena teliti atau tidak terampil memeriksa dan takut salah diagnosis? defensive medicine berkembang mengikuti pola di Amerika. Lagipula, dokter cenderung TAKUT PASIEN TIDAK MERASA SEMBUH DAN TIDAK KEMBALI, sehingga membombardir dengan segepok obat plus antibiotik, padahal jelas-jelas infeksi viral. Ketahuilah juga bahwa 90% penyakit selesai di level dokter keluarga, hanya dengan sedikit obat simptomatik ringan, ramah tamah komunikasi-edukasi, dan rawat rumah dengan istirahat-nutrisi yang cukup! — menurut pendapat saya termasuk kecurigaan demam pada Ibu Prita Mulyasari (ilustrasi pendekatan berdasar surat pembaca beliau yg dimuat).

Lihatlah berapa banyak dokter, klinik dan RS yang berupaya mencari untung sebesar-besarnya. Berapa banyak dari anda yang setiap kali ke dokter selalu diberikan obat bermerek nan mahal? atau justru anda yg meminta karena menurut anda yg bermerek dan mahal itu lebih baik? tentu saja anda akan membuat para dokter, termasuk saya, sangaat-sangaaat berbahagia! karena bila kami menjual obat paten banyaak, maka fee-peresepan dari perusahaan itu juga banyaak! bahagialah kami. Berapa banyak kerabat anda bangga ketika dilakukan operasi? atau justru minta dioperasi ketika patah tulang? padahal biaya pembelian plate/pen platina kami lipatkan 4x dari harga distributor, plus kami mendapat uang jasa medik operasi, padahal patah tulang tersebut sebenarnya cukup direposisi dan immobilisasi dengan plaster-cast (gips) sederhana?. Berapa banyak kerabat anda yang merasa telah menjalani operasi pengangkatan appendiks (usus buntu) dengan sukses? padahal berdasar hasil pemeriksaan patologi anatomi dari jaringan usus buntu tersebut ternyata hanya radang ringan biasa, yang tidak butuh dioperasi?

— anda hanya tidak tahu saja, seandainya kami membukukan berbagai jenis kecurangan dapat yang kami lakukan pada anda, mungkin akan lebih tebal daripada kamus besar Bahasa Indonesia; karena kebanyakan dari anda justru bangga ketika kami curangi — canda :)
Lihatlah bagaimana Pemerintah memperlakukan dokter dan pasien layaknya konsumen dan produsen?. Dokter dicetak sebanyak-banyaknya tanpa memperhatikan kualitas, semata demi mengejar rasio jumlah dokter dengan jumlah penduduk. Pendidikan kedokteran beralih dari institusi suci pendidik menjadi lahan bisnis. Cobalah anda bertanya, lebih mudah mana sekarang masuk ke Fakultas Kedokteran dengan ujian atau membayar sumbangan? ketahuilah, lebih mudah untuk menjadi dokter bila orangtua anda kaya. IDI mencoba memberlakukan Surat Tanda Registrasi dan kewajiban ujian untuk menyaring kualitas lulusan dokter yang tercetak; tapi apa yang terjadi — soal ujian yang terlalu gampang dengan passing grade yang terlalu rendah untuk mengakomodir “mereka yang masuk Fakultas Kedokteran bukan karena kepandaian otak!”. Bullshit! (maaf) makin banyak dokter goblok berkeliaran. Dapatkah anda wahai para pasien membedakan mana dokter penjahat dan mana dokter yg lurus benar?

BAGAIMANAKAH POSISI DOKTER-PASIEN YANG DIAJARKAN (setidaknya kepada saya)

Saya bukanlah dokter yang merasa paling suci dan paling benar, saya telah banyak melakukan kesalahan. Saya juga dokter yang bodoh, bukanlah dokter dengan IP cumlaude untuk mengingat secara detil kuliah etika kedokteran yang diajarkan sejak semester satu dan selalu diulang-ulang hingga saya lulus. Setidaknya yang saya ingat akan saya gambarkan sebagai ilustrasi gampang berikut:

Adakah teman sepermainan anda sejak SD yang menjadi dokter? bilamana anda bertemu dengannya? Ya, hubungan dokter dengan pasien adalah hubungan sahabat. Sahabat yang sedang sakit meminta tolong sahabat lain yang dapat mengobati sakitnya. Hubungannya adalah SAKRAL, dimana sang sakit menyerahkan segenap raganya untuk diperlakukan sedemikian rupa oleh penyembuh. SAKRAL karena sang sakit dengan sendirinya MEMILIH kepada siapa raganya DIPERCAYAKAN. SAKRAL karena sang penyembuh MAU DAN MAMPU menerima kepercayaan dari sang sakit.

Atas landasan itikad percaya satu sama lain, dokter dan pasien menjalin hubungan. Bukan berdasar atas siapa melayani siapa, siapa pembeli dan siapa penjual. Dengan adopsi pola hubungan konsumen-penyedia jasa tersebut, menurut etika kedokteran, justru merendahkan martabat pasien sebagai obyek, sebagai benda, sebagai motor bila itu bengkel.

Kesepakatan untuk mengobati HANYA BOLEH DILAKUKAN bila dokter dan pasien sudah terikat percaya satu sama lain. Oleh karena itu, jalinan komunikasi harus terbentuk SEBELUM proses pemeriksaan dan terapi dilakukan. Maka dari itu, kenalilah doktermu terlebih dahulu (bagi pasien) dan kenalilah dulu pasienmu (bagi dokter), lalu jalinlah hubungan, jalin kepercayaan. Kesepakatan-kepercayaan inilah dasar vital bagi berlangsungnya etika kedokteran dengan baik. Kenyataannya di lapangan? sudahkah anda melakukannya? ini adalah dasar lhoo… kok mau-maunya anda menyerahkan hidup anda pada orang yang anda tidak percaya? bahkan anda tidak kenal? bagaimana kalau ternyata yang anda berikan kepercayaan hidup anda itu maling pemburu harta belaka? bagaimana anda tahu dia maling? cuma gara-gara RS megah dan canggih ala negara tetangga lalu anda percaya mereka bukan maling? konon maling sekarang perlente lhoo… mau-maunya ditipu.

Itikad kepercayaan dan etika kedokteran, sebenarnya sudah ada jauuh sebelum UU Praktek Kedokteran kita disahkan. Pada hakikatnya, ia seharusnya sudah lebur ke dalam jiwa setiap penyelia jasa kemanusiaan. Ketika ijab-kabul kepercayaan itu terjadi, etika kedokteran jauh lebih dapat dilaksanakan daripada berdasar tansaksi jual-beli, karena pelaksanaan etika kedokteran yang benar butuh hubungan sangat mendalam antara dokter pasien. Coba lihat cuplikan populer mengenai etika medis yang penjelasan panjangnya anda dapat temukan dengan mudahnya di situs terkenal http://en.wikipedia.org/wiki/Medical_ethics

* Autonomy - the patient has the right to refuse or choose their treatment. (Voluntas aegroti suprema lex.)
* Beneficence - a practitioner should act in the best interest of the patient. (Salus aegroti suprema lex.)
* Non-maleficence - “first, do no harm” (primum non nocere).
* Justice - concerns the distribution of scarce health resources, and the decision of who gets what treatment (fairness and equality).
* Dignity - the patient (and the person treating the patient) have the right to dignity.
* Truthfulness and honesty - the concept of informed consent

dapatkah mereka terlaksana tanpa hubungan saling percaya yang harmonis antara dokter dengan pasien?

Hubungan dokter dan pasien hanya dan hanya akan tercipta bila 6 asas tersebut terpenuhi. Bila satu saja dari asas tersebut tidak terlaksana, maka yg pasti hubungan tersebut tidak layak disebut sebagai hubungan antara dokter dan pasien. Sebagai contoh, dalam kasus Ibu Prita Mulyasari, sudahkah 6 asas tersebut terlaksana? sudahkah hubungan antara dokter dgn Ibu Prita layak disebut hubungan dokter pasien? adakah diawali dengan deal saling percaya antara dokter dan pasien? (yang ada adalah Ibu Prita menduga bahwa RS ybs “tampaknya” layak dipercaya, sedangkan RS tersebut menerima pasien “seperti biasa”: sebagai pembeli jasa). Dalam kasus Ibu Prita Mulyasari, kalau boleh saya lancang, saya akan menamakannya hubungan pedagang dengan pembeli (biasanya pembeli yang banyak menuntut ke pedagang, yang ini justru pedagang menuntut pembeli karena pencemaran nama baik, yang dapat mengakibatkan dagangannya mungkin tidak laku), bukan hubungan antara dokter dengan pasien.

Kepercayaan diawali dengan kenal tidaknya kita dengan sesuatu yg akan kita berikan kepercayaan. Kendala yg dihadapi di negara kita adalah pasien sama sekali tidak mengenal siapa yg diberikannya kepercayaan, dunia seperti apa tempat ia sandarkan sepenuhnya dirinya. Pasien yang buta terhadap dunia medis selalu berjumlah jauh lebih banyak daripada yg melek, terlebih di negara kita. Keterbatasan akses informasi, stigma kedewaan dokter dan RS (always work in unknown ways), strata ekonomi yang lemah, kondisi sosial dan budaya, menyebabkan rendahnya pula kesadaran masyarakat untuk mempelajari seluk beluk dunia medis. Ilmu medis dianggap ilmunya dokter saja, si penyembuh serba bisa. Inilah yang menyebabkan msyarakat cenderung “pasrah bongkokan” kepada dokter, menyerahkan nasib sepenuhnya pada siapapun dokternya, apapun RSnya, apapun tindakannya. Inilah penyebab fenomena gunung es “kejahatan dan kesalahan medis” : yang masyarakat tahu dan permasalahkan hanya ujung mungilnya saja, sebagian besarnya yang terletak di bawah permukaan air masyarakat tak pernah tahu, hanya dokter yang tahu. Dan banyak dokter yang bukannya membantu menjadi penyedia akses informasi, namun justru menjadikan keawaman pasien ini sebagai lahan mencari untung. Tahukah anda, 90% kasus ISPA disebabkan karena virus, tidak perlu terapi antibiotik? banyak dokter sengaja memberikan antibiotik bukan atas indikasi namun demi fee-peresepan. Tahukah anda bila dokter SENGAJA melakukan terapi tanpa indikasi ia dapat dituntut malpraktek (pure malpractice)?

Bila tak tahu atau tak mau tahu dengan dunia medis, rasa percayapun tak tersepakati, tentu mustahil untuk mencapai terpenuhinya 6 asas tersebut. Mana mungkin asas autonomy terlaksana bila pasien tak tahu apa yg terjadi pada dirinya dan tindakan medis apa saja yg dpt dilakukan oleh dokter?

Mari kita berandai2, seandainya hubungan antara Ibu Prita dengan dokter dan RS ybs memenuhi 6 asas tersebut. Alangkah mulianya dokter yang memperkenalkan dirinya di depan pasien, mengambil persetujuan pasien atas dirinya sebagai tempat sandaran kepercayaan. Alangkah mulianya seorang dokter yang memberi waktu luang pada orang yang ingin percaya padanya untuk bertanya banyak mengenai kondisi sakitnya. Alangkah mulianya seorang dokter yang menjelaskan segala macam pilihan tindakan dan resikonya sehingga bahkan pasien sendiripun dapat memilih dengan sendirinya tindakan apa yg akan dilakukan pada dirinya. Alangkah mulianya seorang dokter yang jujur memohon maaf dan menjelaskan bahwa diagnosis belum dapat ditegakkan meski segala pemeriksaan telah dilakukan, daripada bersikap maha tahu bagaikan dewa. Alangkah mulianya seorang dokter yang dengan jujur berkata “saya tidak mampu” daripada asal menerka dan beraksi coba-coba. Alangkah mulianya seorang dokter yang tulus memohon maaf karena meskipun telah berusaha dengan segala cara, ia tetap gagal menangani pasiennya. Ya, bagaimanapun dokter adalah manusia, bukanlah sosok sempurna.

… saya pikir, tak perlulah berobat ke RS berlabel Internasional, cukup di Puskesmas desa, bila semua dokter di Indonesia tidak hanya pandai, namun berhati mulia seperti ini. Ya, mungkin menurut anda yang saya ceritakan hanya idealita mimpi, saya juga beranggapan demikian. Namun, apakah anda tidak mau mewujudkan mimpi ini dalam kenyataan? mari kita benahi, mulai dari titik ini, satu hal yang kecil namun berarti: cara pandang kita, mulailah menempatkan dokter dan pasien dalam hakikat posisi yg sebenarnya. Dokter dgn pasien, bukan pedagang dengan pembeli.

KESIMPULAN

Yah, lagi-lagi hanya bisa menyarankan…

Kepada para pasien: hubungan antara dokter dengan pasien bukanlah hubungan jual-beli. Kalau anda beli beras, bolehlah anda cukup amati berasnya saja. Tapi ini masalah nyawa, kenalilah dokter dan sakit anda sebelum menyerahkan raga anda. Peganglah selalu bahwa anda punya hak untuk memilih siapa dokter anda percaya, yang menjunjung tinggi 6 butir asas etika kedokteran diatas. Carilah dokter-dokter yang lurus dan benar, masih banyak dokter seperti itu di Indonesia, banyak dari mereka justru anda dapatkan bukan di RS mewah dan berkelas, hanya praktekan mungil di sudut jalan yang sepi terpencil. Jangan hanya mengamati dari mewah dan canggihnya iklan dan kesan. Pengobatan bukanlah benda yang diperjualbelikan, namun masalah kepercayaan.

Kepada para dokter dan penyedia layanan kesehatan: bertobatlah, kembalilah ke jalan yang benar. Lihatlah quote di baris paling atas — itu adalah kutipan sumpah anda ketika dilantik menjadi dokter; ingatlah bahwa hidup anda telah anda serahkan untuk kemanusiaan, bukan untuk bisnis atau nyambi bisnis. Kalau mau berbisnis, jadilah pedagang, bukan dokter.

Kepada para pembaca: mohon maaf sebesarnya bila ada salah kata yang meyakiti hati dan menyinggung perasaan. Ini hanya opini, bukan mencoba sok suci, sok idealis, tidak bermaksud menggurui atau menyinggung pihak manapun. Saya hanya dokter yang baru saja menetas, masih tertatih, mencoba untuk berjalan di jalan yang idealis. Mohon bimbingan dan koreksi agar saya tetap di jalan yang lurus dan benar..

Wassalamualaikun Wr Wb

Comments No Comments »

Penolakan beberapa pihak atas Budiono akhir-akhir ini memunculkan kata-kata asing bagi saya. Salah satunya adalah Mafia Berkeley. Wawancara dengan antara VivaNews dengan Jeffrey A Winters, Profesor ekonomi politik dari Northwestern University, Amerika Serikat memunculkan kata tersebut. Winters yang fasih berbahasa Indonesia dikenal sebagai pengamat politik Indonesia yang cukup tajam, serta kritikus pedas lembaga keuangan internasional, seperti Bank Dunia dan IMF(baca disini). 

Setelah beberapa kali pencarian di internet, di bawah ini adalah salah satu artikel yang membahas siapa dan apa itu Mafia Berkeley. Selamat Menikmati.

Mafia Berkeley dianggap sebagai ’otak’ atas segala carut-marut ekonomi di Indonesia. Terjualnya sebagian besar aset strategis bangsa ini, semakin membengkaknya nilai utang negara dan yang lainnya adalah keberhasilan ’agenda’ mereka. Negara akhirnya ’tergadai’ oleh kapitalis asing. Negara ini pun ’dihisap’ habis kekayaannya. Ujungnya, rakyat semakin hari semakin sengsara.

Apa sebenarnya Mafia Berkeley itu? Siapa saja yang termasuk di dalamnya? Bagaimana operasi mereka sebagai ’komprador’ asing yang setia menjual aset-aset negara? Bagaimana pola rekruitmen mereka? Yang terpenting, mengapa mereka hingga saat ini ’tidak tersentuh’?

Untuk menjawab itu semua, wartawan kami, Gus Uwik, mewawancarai Kusfiardi (Mantan Koordinator Koalisi Anti Utang/KAU). Berikut petikan wawancaranya.

 

Sebenarnya, apa Mafia Berkeley itu?

Mafia Berkeley adalah Organisasi Tanpa Bentuk (OTB), namun memiliki sistem regenerasi yang mapan. Generasi awalnya adalah Prof. Widjojo Nitisastro, Ali Wardhana, Emil Salim, Soebroto, Moh. Sadli, JB Soemarlin, Adrianus Mooy, dan masih sangat banyak lagi. Yang sekarang dominan adalah Sri Mulyani, Moh. Ikhsan, Chatib Basri, dan masih banyak lagi. Mereka tersebar pada seluruh departemen dan menduduki jabatan eselon I dan II, sampai kepala biro.

Ciri kelompok itu ialah masuk ke dalam kabinet tanpa peduli siapa presidennya. Mereka mendesakkan diri dengan bantuan kekuatan agresor. Kalau kita ingat, sejak akhir era Orde Lama, Emil Salim sudah menjadi anggota penting dari KOTOE dan Widjojo Nitisastro sudah menjadi sekretaris Perdana Menteri Djuanda. Widjojo akhirnya menjabat ketua Bappenas dan bermarkas di sana.

Setelah itu, presiden berganti beberapa kali. Yang “kecolongan” tidak masuk ke dalam kabinet adalah ketika Gus Dur menjadi presiden. Namun, begitu mereka mengetahui, mereka tidak terima. Mereka mendesak supaya Gus Dur membentuk Dewan Ekonomi Nasional. Seperti kita ketahui, ketuanya adalah Emil Salim dan sekretarisnya Sri Mulyani. Mereka berhasil mempengaruhi atau “memaksa” Gus Dur; mereka diperbolehkan hadir dalam setiap rapat koordinasi bidang ekuin. Tidak puas dengan itu, mereka berhasil membentuk Tim Asistensi pada Menko Ekuin yang terdiri atas dua orang saja, yaitu Widjojo Nitisastro dan Sri Mulyani. Dipaksakan bahwa mereka harus ikut mendampingi Menko Ekuin dan menteri keuangan dalam perundingan Paris Club pada 12 April 2000, walaupun mereka sama sekali di luar struktur dan sama sekali tidak dibutuhkan. Mereka membentuk opini publik bahwa ekonomi akan porak-poranda di bawah kendali tim ekonomi yang ada. Padahal kinerja tim ekonomi di tahun 2000 tidak jelek kalau kita pelajari statistiknya sekarang.

Yang mengejutkan, Presiden Megawati mengangkat Boediono sebagai menteri keuangan dan Dorodjatun sebagai Menko Perekonomian. Aliran pikir dan sikap Laksamana Sukardi sangat jelas sama dengan Berkeley Mafia.

Presiden SBY sudah mengetahui semuanya dan tetap saja memasukkan tokoh-tokoh Berkeley Mafia seperti Boediono, Sri Mulyani, Purnomo Yusgiantoro, dan Mari Pangestu ke dalam kabinet pemerintahannya.

 

Mengapa disebut sebagai ’mafia’? Apakah memang membahayakan’?

Sebutan mafia bagi Mafia Berkeley, selain karena mereka adalah sekelompok ekonom yang dirancang untuk mendukung hegemoni Amerika Serikat (AS) dan merusak ekonomi Indonesia, juga mendapatkan dukungan penuh dari lembaga keuangan internasional seperti IMF dan World Bank untuk selalu mendapatkan kekuasaan di Pemerintahan Indonesia di bidang ekonomi.

Kelompok ini sangat berbahaya karena Mafia Berkeley memang dirancang secara sistematis untuk mengontrol ekonomi Indonesia. Kebijakan ekonomi yang diambil berisi empat strategi utama, yakni: kebijakan anggaran yang ketat dan penghapusan subsidi, meliberalisasi keuangan, meliberalisasi industri dan perdangangana serta melakukan privatisasi. Kebijakan yang mereka jalankan tersebut merupakan hasil rumusan dari IMF, Bank Dunia dan USAID.

 

Bagaimana awal masuknya Mafia Berkeley di Indonesia?

Kelompok mafia tersebut telah dipersiapkan secara sistematis oleh kekuatan luar Indonesia selama sepuluh tahun sebelum berkuasa (1956-1966) sebagai bagian dari strategi Perang Dingin menghadapi kekuatan progresif dan revolusioner di kawasan Asia.

Kelompok yang dikenal dengan Mafia Berkeley ini kebanyakan dari generasi pertamanya lulusan Program Khusus di Universitas Berkeley, California. Universitas Berkeley sendiri merupakan salah satu universitas terkemuka di Amerika. Para mahasiswanya terkenal progresif dan mayoritas anti Perang Vietnam.

Namun, program untuk Mafia Berkeley dirancang khusus untuk orang Indonesia yang dipersiapkan untuk di kemudian hari menjadi bagian dari hegemoni global Amerika. Disebut mafia, mengambil idea dari organisasi kejahatan terorganisasi di Amerika, karena mereka secara sistematis dan terorganisasi menjadi alat dari hegemoni dan kepentingan global di Indonesia.

 

Atas dasar kepentingan apa mereka ‘ditanam’ di Indonesia?

Selain sebagai bagian dari agen hegemoni global Amerika, Mafia Berkeley sekaligus berfungsi sebagai alat untuk memonitor kebijakan ekonomi Indonesia agar sejalan dan searah dengan kebijakan umum ekonomi yang digariskan oleh Washington. Garis kebijakannya adalah Washington Konsensus yang terdiri dari: kebijakan anggaran yang ketat, penghapusan subsidi, liberalisasi keuangan, liberalisasi industri dan perdagangan, serta privatisasi.

 

Bagaimana posisi Mafia Berkeley dalam Pemerintah?

Dalam pemerintahan, Mafia Berkeley selalu menargetkan untuk menguasai jabatan di bidang ekonomi dan sumber daya. Jabatan tersebut bisa sebagai menteri, staf ahli maupun posisi lainnya yang langsung berhubungan dalam perumusan kebijakan ekonomi politik. Posisi tersebut sangat strategis.

Menteri Keuangan, misalnya. Selain sebagai penentu kebijakan keuangan negara, sekaligus sebagai bendahara negara. Artinya, tidak satu peser pun uang negara bisa keluar tanpa persetujuan Menteri Keuangan.

 

Bagaimana kebijakan-kebijakannya saat ini terhadap pembangunan ekonomi Indonesia?

Selama 40 tahun lebih berkuasa, kebijakan ekonomi yang dijalankan oleh Mafia Berkeley dalam pemerintahan tidak pernah memberikan perubahan bagi kesejahteraan rakyat. Namun, hingga saat ini, Mafia Berkeley masih bercokol di sektor-sektor vital, seperti di Departemen Keuangan, Departemen Perdagangan, Departemen Energi Sumber Daya dan Mineral, Bank Indonesia, dan departemen lain yang berkaitan dengan sektor ekonomi strategis lainnya.

Kebijakan yang mereka ambil memang tidak pernah mempertimbangkan aspek kesejahteraan rakyat Indonesia. Mereka lebih memprioritaskan untuk melaksanakan perintah dari IMF dan Bank Dunia.

Berbagai kebijakan ekonomi yang dikeluarkan justru menghambat kemajuan ekonomi dan kesejahteraan rakyat Indonesia.

 

Bisa disebutkan contoh-contoh kebijakannya?

Utang luar negeri, liberalisasi perdagangan dan keuangan, pencabutan berbagai macam subsidi (termasuk subsidi BBM) dan privatisasi yang menyerahkan aset milik negara pada pihak swasta maupun pemerintah asing.

 

Apakah Mafia Berkeley berdiri sendiri atau ada dukungan dari pihak luar (asing)?

Mafia Berkeley mendapat dukungan penuh dari pemerintahan negara maju, khususnya Amerika Serikat dan lembaga dan asosiasi ekonomi internasional. Dukungan tersebut ditunjukkan dengan memberikan citra positif bahkan penghargaan skala internasional terhadap Mafia Berkeley, walaupun mereka belum menunjukkan hasil kerja seperti yang digambarkan dalam penghargaan tersebut. Misalnya, waktu mereka memberikan penghargaan sebagai menteri keuangan terbaik kepada Sri Mulyani. Kita kan tahu, saat itu dia baru saja menjabat sebagai Menkeu, belum melakukan kerja yang berarti, tapi sudah dapat penghargaan internasional.

 

Bagaimana hubungan mereka selama ini dengan ‘tuannya’?

Mereka akan selalu memberikan kemudahan bagi pergerakan modal asing untuk menguasai perekonomian Indonesia, termasuk memastikan Indonesia tetap membayar utang-utang lama dan meneruskan pembuatan utang baru. Dengan ketergantungan utang ini, Mafia Berkeley bisa tetap berkuasa karena memungkinkan pihak asing untuk mengontrol perekonomian nasional melalui agen mereka, yaitu Mafia Berkeley.

 

Bagaimana Mafia Berkeley mempertahankan eksistensinya?

Mereka sudah memposisikan diri sebagai budak Kapitalisme dan agen asing. Mereka akan melayani seluruh kemauan asing yang berkaitan dengan invasi ekonomi untuk memiskinkan Indonesia.

 

Layaknya sebuah organisasi, mereka akan melakukan ‘kaderisasi’. Bagaimana pola kaderisasi dan pendanaannya?

Kaderisasi dalam Mafia Berkeley telah dipersiapkan secara sistematis oleh kekuatan luar Indonesia. Program kaderisasi yang terpenting di dalam Mafia Berkeley adalah melalui pendidikan untuk orang Indonesia yang dipersiapkan untuk di kemudian hari menjadi alat dari hegemoni dan kepentingan global di Indonesia.

 

Apa yang menyebabkan mereka hingga saat ini masih bisa eksis?

Karena mereka mampu melayani dengan baik para majikannya dan rakyat tidak menaruh perhatian serius pada sepak terjang Mafia Berkeley. Belum ada aksi protes dalam bentuk massif yang menggugat kejahatan mereka selama ini. Padahal kekisruhan politik akibat kenaikan BBM yang sekarang terjadi, aktor utamanya adalah Mafia Berkeley.

 

Lalu bagaimana melawannya hingga mereka semua ‘terusir’ dari negeri kita?

Untuk membersihkan Mafia Berkeley di pemerintahan kita harus memiliki agenda yang terstruktur dan berjalan simultan. Hal penting yang harus kita lakukan adalah bagaimana memperkuat opini publik, bahwa penyebab kesengsaraan rakyat hari ini adalah Mafia Berkeley. Jika rakyat ingin keluar dari kesengaraan ini maka Mafia Berkeley harus disingkirkan jauh-jauh dari seluruh aspek kehidupan kita berbangsa dan bernegara. Mereka layak disingkirkan, karena mereka adalah agen asing dan pengkhianat. (Sumber)

Comments No Comments »

Gunjang-ganjing Budiono dengan paham neoliberalisme yang dituduhkan kepadanya semakin santer dan pastinya sih akan menjadi bahan empuk sasaran capres pesaing. Di bawah ini adalah kutipan tentang seluk beluk neoliberalisme, bersumber dari tulisan  Revrisond Baswir di koran Kedaulatan Rakyat. Selamat menikmati.

NEOLIBERALISME. Tiba-tiba saja mencuat menjadi wacana hangat di tengah-tengah masyarakat. Pemicunya adalah munculnya nama Boediono sebagai calon wakil presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam pemilihan presiden yang akan datang. Menurut para penentang mantan Gubernur Bank Indonesia tersebut, Boediono seorang ekonom yang menganut paham ekonomi neoliberal, sebab itu ia sangat berbahaya bagi masa depan perekonomian Indonesia.

Tulisan ini tidak bermaksud mengupas Boediono atau paham ekonomi yang dianutnya. Tujuan tulisan ini adalah untuk menguraikan pengertian, asal mula, dan perkembangan neoliberalisme secara singkat. Saya berharap, dengan memahami neoliberalisme secara benar, silang pendapat yang berkaitan dengan paham ekonomi ini dapat dihindarkan dari debat kusir. Sebaliknya, para ekonom yang jelas-jelas mengimani neoliberalisme, tidak secara mentah-mentah pula mengelak bahwa dirinya bukan seorang neoliberalis. 

Sesuai dengan namannya, neoliberalisme adalah bentuk baru dari paham ekonomi pasar liberal. Sebagai salah satu varian dari kapitalisme yang terdiri dari merkantilisme, liberalisme, keynesianisme, neoliberalisme dan neokeynesianisme, neoliberalisme adalah sebuah upaya untuk mengoreksi kelemahan yang terdapat dalam liberalisme.

Sebagaimana diketahui, dalam paham ekonomi pasar liberal, pasar diyakini memiliki kemampuan untuk mengurus dirinya sendiri. Karena pasar dapat mengurus dirinya sendiri, maka campur tangan negara dalam mengurus perekonomian tidak diperlukan sama sekali. Tetapi setelah perekonomian dunia terjerumus ke dalam depresi besar pada tahun 1930-an, kepercayaan terhadap paham ekonomi pasar liberal merosot secara drastis. Pasar ternyata tidak hanya tidak mampu mengurus dirinya sendiri, tetapi dapat menjadi sumber malapetaka bagi kemanusiaan. Depresi besar 1930-an tidak hanya ditandai oleh terjadinya kebangkrutan dan pengangguran massal, tetapi bermuara pada terjadinya Perang Dunia II.

Menyadari kelemahan ekonomi pasar liberal tersebut, pada September 1932, sejumlah ekonom Jerman yang dimotori oleh Rustow dan Eucken mengusulkan dilakukannya perbaikan terhadap paham ekonomi pasar, yaitu dengan memperkuat peranan negara sebagai pembuat peraturan. Dalam perkembangannya, gagasan Rostow dan Eucken diboyong ke Chicago dan dikembangkan lebih lanjut oleh Ropke dan Simon. 

Sebagaimana dikemas dalam paket kebijakan ekonomi ordoliberalisme, inti kebijakan ekonomi pasar neoliberal adalah sebagai berikut: (1) tujuan utama ekonomi neoliberal adalah pengembangan kebebasan individu untuk bersaing secara bebas-sempurna di pasar; (2) kepemilikan pribadi terhadap faktor-faktor produksi diakui dan (3) pembentukan harga pasar bukanlah sesuatu yang alami, melainkan hasil dari penertiban pasar yang dilakukan oleh negara melalui penerbitan undang-undang (Giersch, 1961). Tetapi dalam konferensi moneter dan keuangan internasional yang diselenggarakan oleh Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) di Bretton Woods, Amerika Serikat (AS) pada 1944, yang diselenggarakan untuk mencari solusi terhadap kerentanan perekonomian dunia, konsep yang ditawarkan oleh para ekonom neoliberal tersebut tersisih oleh konsep negara kesejahteraan yang digagas oleh John Maynard Keynes. 

Sebagaimana diketahui, dalam konsep negara kesejahteraan atau keynesianisme, peranan negara dalam perekonomian tidak dibatasi hanya sebagai pembuat peraturan, tetapi diperluas sehingga meliputi pula kewenangan untuk melakukan intervensi fiskal dan moneter, khususnya untuk menggerakkan sektor riil, menciptakan lapangan kerja dan menjamin stabilitas moneter. Terkait dengan penciptaan lapangan kerja, Keynes bahkan dengan tegas mengatakan: ”Selama masih ada pengangguran, selama itu pula campur tangan negara dalam perekonomian tetap dibenarkan.”

Namun kedigdayaan keynesianisme tidak bertahan lama. Pada awal 1970-an, menyusul terpilihnya Reagen sebagai presiden AS dan Tatcher sebagai Perdana Menteri Inggris, neoliberalisme secara mengejutkan menemukan momentum untuk diterapkan secara luas. Di Amerika hal itu ditandai dengan dilakukannya pengurangan subsidi kesehatan secara besar-besaran, sedang di Inggris ditandai dengan dilakukannya privatisasi BUMN secara massal.
Selanjutnya, terkait dengan negara-negara sedang berkembang, penerapan neoliberalisme menemukan momentumnya pada akhir 1980-an. Menyusul terjadinya krisis moneter secara luas di negara-negara Amerika Latin. Departemen Keuangan AS bekerja sama dengan Dana Moneter Internasional (IMF), merumuskan sebuah paket kebijakan ekonomi neoliberal yang dikenal sebagai paket kebijakan Konsensus Washington. Inti paket kebijakan Konsensus Washington yang menjadi menu dasar program penyesuaian struktural IMF tersebut adalah sebagai berikut: (1) pelaksanaan kebijakan anggaran ketat, termasuk kebijakan penghapusan subsidi; (2) liberalisasi sektor keuangan; (3) liberalisasi perdagangan; dan (4) pelaksanaan privatisasi BUMN. 

Di Indonesia, pelaksanaan agenda-agenda ekonomi neoliberal secara masif berlangsung setelah perekonomian Indonesia dilanda krisis moneter pada 1997/1998 lalu. Secara terinci hal itu dapat disimak dalam berbagai nota kesepahaman yang ditandatatangani pemerintah bersama IMF. Setelah berakhirnya keterlibatan langsung IMF pada 2006 lalu, pelaksanaan agenda-agenda tersebut selanjutnya dikawal oleh Bank Dunia, ADB dan USAID. 
Menyimak uraian tersebut, secara singkat dapat disimpulkan, sebagai bentuk baru liberalisme, neoliberalisme pada dasarnya tetap sangat memuliakan mekanisme pasar. Campur tangan negara, walau pun diakui diperlukan, harus dibatasi sebagai pembuat peraturan dan sebagai pengaman bekerjanya mekanisme pasar. Karena ilmu ekonomi yang diajarkan pada hampir semua fakultas ekonomi di Indonesia dibangun di atas kerangka kapitalisme, maka sesungguhnya sulit dielakkan bila 99,9 persen ekonom Indonesia memiliki kecenderungan untuk menjadi penganut neoliberalisme. Wallahua’lambishawab.(Penulis adalah Peneliti Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan UGM)

Comments No Comments »

Politik bukanlah latar belakang keilmuan saya. Tapi ribut-ribut tentang pileg dan pilpres 2009 ini lumayan membuat saya jadi menulis lagi. Ya lumayanlah, setidaknya untuk bulan Mei 2009 ini, aktifitas blogging saya tidaklah terhenti. Apalagi jika kita lihat tanggapan-tanggapan masyarakat berseliweran di forum atau di tv menanggapi kelakuan parpol-parpol yang ada. 

Menurut wikipedia, parpol adalah ”is a political organization that seeks to attain and maintain political power within government, usually by participating in electoral campaigns.” Jadi tujuan utama parpol itu sendiri adalah mencari atau mempertahankan kekuasaan. 

Secara profesional, sebagai suatu organisasi, jika tidak mencapai tujuaannya, maka partai itu akan bubar. Jika partai dianggap sebagai sebuah perusahaan, maka perusahaan itu akan bangkrut. Jadi seeking of power, merupakan menu utama dalam sebuah parpol. Sesederhana itu sebenarnya.

Jujur saja, saya paling sebal jika ada komentar-komentar celaan seperti, “Ah parpol A, parpol Ini, parpol Itu hanya mencari kekuasaan saja.” Atau, “Parpol-parpol itu hanya bagi-bagi kekuasaan saja.“ 

Coba jika kita ganti, “Ah nelayan itu hanya mencari ikan saja“. Atau, “Ah pedagang itu hanya cari keuntungan saja“. Atau sekali lagi, “Ah, klub sepakbola itu cuma cari menang saja.” Atau ada orang yang bilang ke saya, “Ah kamu ki, coding melulu“. Sungguh komentar yang tidak berbobot.

Marilah kita sedikit lebih cerdik lagi dalam berkomentar. Sebagai contoh kita bisa berkomentar, “Nelayan itu seharusnya tidak menangkap dengan listrik atau bom“. Atau, “Tidak usah beli lagi di pedagang itu, karena dia suka jual barang kadaluwarsa“. Atau, “Males jadinya ngedukung klub yang gak fairplay itu“. 

 

Cerita Lalu:Lega Rasanya Mengutarakannya Disini

Ketika pilpres 2004, salah satu capres yang kebetulan bagi saya adalah pilihan terbaik dari yang ada dikatakan orang sebagai seorang yang “ambisius”, saya jadi tidak habis pikir, kenapa tidak cari alasan lain yang lebih cerdas. Menjadi capres memang harus ambisius, karena ambisius adalah modal seorang politikus. Jika kita mau bercermin dari Amerika, bagaimana capres disana saling berkompetisi, kita bisa melihat betapa indahnya apa yang dikatakan orang sebagai ambisius itu. 

Man is by nature a political animal, begitulah yang dikatakan oleh Aristoteles. Menjadi capres adalah berusaha menjadi orang yang tidak biasa. Maka orang itu harus punya kemampuan. Maka modal untuk mengawalinya adalah berambisi untuk mencapainya. Ambition is the possession of motivation for power *. Jadi antara ambisi dan kekuasaan itu memang sejalan. Maka aneh jadinya ketika orang mempermasalahkan antara kekuasaan dan ambisi. 

 

* Dalam wiktionary disebutkan bahwa ambisi adalah :

1. An eager or inordinate desire for some object that confers distinction, as preferment, honor, superiority, political power, or literary fame; desire to distinguish one’s self from other people.
2. A desire, as in (1), for another person to achieve these things.
3. The purported pathway to a chosen career.
4. A personal quality similar to motivation, not necessarily tied to a single goal.

Comments No Comments »

Sudah lama kuping saya dijejali dengan berbagai macam iklan produk antioksidan di televisi. Saya tahunya yang namanya antioksidan itu sangat berguna buat kesehatan. Saya tahunya kalau naik motor di jalan dan terkena asap pembuangan kendaraan, berarti saya sudah cocok menjadi konsumen produk antioksidan.

Puncaknya beberapa minggu yang lalu ketika istri saya mendapatkan hadiah produk dari mbak Citi(Citibank) berupa antioksidan water maker. Canggih bukan kedengarannya(= wong ndeso tenan). Produk bernama “Miracle Water” ini adalah merek Advance, yang memang dagangannya jualan produk alat kesehatan (Wah harusnya dibayar nih, iklan gratis).  

Setelah mendengar penjelasan (yang lumayan lama) dari sang salesman yang tanpa malu-malu menunjukkan SP karena tidak mencapai target penjualan (kasihan ya), kami pun akhirnya pulang dari sebuah mall paling besar di Bandung. Hehe, jauh-jauh kesana hanya untuk mengambil produk gratisan. Indonesia banget.

 

Jadi Apa Itu Antioksidan?

Jika ditilik dari namanya, antioksidan, berarti ada lawannya yaitu oksidan. Dari sinilah saya seperti biasa mencari peruntungan informasi dari abah Google, supaya lebih melek lagi dan nantinya bisa terlihat intelek saat ditanya teman. 

Oksidan adalah molekul relatif yang menyerang molekul lain sebagian berupa RADIKAL BEBAS, yang bersifat reaktif karena memiliki elektron tidak berpasangan, jadi bersifat tidak stabil. Seterusnya molekul yang kehilangan elektron mengambil elektron dari molekul lain ini yang disebut REAKSI RANTAI.

Radikal bebas ini jadi berbahaya kalau eletron yang direbut bersalah dari sel DNA. Selanjutnya yang terjadi adalah memicu zat karsinogenik yang merubah struktur molekul. Dari sinilah kanker berawal. Selain DNA, efek oksidatif dari radikal jomblo ini juga bereaksi lipid,karbohidrat dan protein. 

Jika sudah menggaet lipid yang berfungsi menjaga kesegaran kulit, yang terjadi adalah penuaan dini. Jika sudah meminang protein yang terjadi adalah penimbunan kolesterol. Ujung-ujungnya adalah jantung koroner.

 

Sumber Radikal Bebas

Rokok, polusi, sinar matahari(UV), radiasi, pestisida dan obat “ngadat”  adalah sumber radikal bebas. Jika kita suka dengan ketinggian atau suka sekali “beterbangan”  (frequent flyer), kita rentan dengan radiasi sinar gamma. Bahkan jika kita kebanyakan berolahraga, radikal lajang itu bisa bermunculan.

Yang mencengangkan adalah bahwa penghasil radikal terbesar adalah TUBUH kita sendiri. Wow! Sel darah putih menggunakan radikal bebas untuk menghancurkan bakteri dan sel yang telah terinfeksi. Radikal bebas ini mencegah manusia dari kematian mendadak dari infeksi. Radikal bebas juga berjasa dalam membantu hati dalam detoksifikasi. Ketika kita bernafas dan mengeluarkan energi, kita mengeluarkan banyak radikal bebas.

Jadi tidak selamanya radikal bebas itu nakal karena keberadaannya sebenarnya juga dibutuhkan tubuh. Begitu yah, humm.

 

Konsumsi (Produk) Antioksidan

Jadi seberapa besar kita harus menkonsumsi produk antioksidan? Cara paling mudah adalah dengan merasakan. Terlalu banyak mengkonsumsi antioksidan justru malah menyebabkan kelelahan dan otot menjadi lemah. Tetaplah mengkonsumsi antioksidan selama tubuh kita merasa bugar dan sehat. Yang jelas antioksidan bukanlah obat. Antioksidan hanya menjaga agar tubuh kita seimbang.  Jika lingkungan kita sangat dekat dengan sumber radikal bebas, semakin rentan tubuh kita dengan serangan radikal bebas.

 

Antioksidan bukan Jenis Makanan Baru

Antioksidan bukanlah jenis makanan baru. Tanpa kita sadari sebenarnya jika kita menkonsumsi makanan sehat dan berimbang, antioksidan sudah berada disana. Antioksidan digolongkan menjadi dua(2), yaitu enzim dan vitamin.

Antioksidan enzim bisa diperoleh dari teh, ikan, telur, ayam, bawang putih, biji gandum, jagung, padi, dan sayuran.

Antioksidan vitamin bisa diperoleh dari vitamin E(alfa tokoferol), vitamin A(beta karoten) dan vitamin C(asam askorbat). Sumbernya adalah minyak nabati terutama minyak kecambah, gandum, kacang-kacangan, biji-bijian, dan sayuran hijau untuk vitamin E. Wortel, brokoli, kentang, dan tomat untuk vitamin A. Sayuran hijau dan buah-buahan untuk vitamin C.

Udang, ikan salmon, kerang sebagai sumber dari hewan mengandung astaxanthin yang 1000 x lebih hebat dari antioksidan vitamin E. Jadi tetap ada keuntungannya dengan tidak menjadi vegetarian.

 

Cara Paling Mudah dan Murah

Cara paling mudah dan murah mendapatkan keseimbangan antara antioksidan dan radikal bebas adalah tinggal di desa. Desa yang masih banyak sawahnya. Yang sungainya bersih dari sampah. Yang masih banyak pepohonan dan kicauan burung bersautan. Yang banyak hasil bumi. Jauh dari resto-resto waralaba. Jauh dari kebisingan kendaraan dan industri. Namun masih bisa berinternet.

 

Sumber:

1. http://www.thenutritionreporter.com/Free-rads.html
2. http://nuskin.wordpress.com/2006/03/28/anti-oksidan/
3. http://www.chem-is-try.org/artikel_kimia/berita/antioksidan_dan_radikal_bebas/

Comments No Comments »

Jangan salah sangka dulu. Saya tidak akan bicara tentang enaknya makan tahu lembang ala “Tahu Lembang” yang terletak di pinggiran Jl. Raya Lembang, Lembang ini. Jangankan makan, niat kami sekeluarga pun jadi batal ketika bermaksud memarkir kendaraan kami di area Tahu Lembang.

Hari itu Sabtu, 18 April 2009, kami memutuskan untuk jalan-jalan ke Lembang. Sudah lama memang keinginan itu ada. Setelah diselingi berhenti tidak jauh setelah melewati terminal Ledeng karena Safin merengek tidak nyaman dan kebetulan saya harus mengisitirahatkan pantat saya yang mulai pegal dan kesemutan, maklum karena Honda Supra Injection kami sudah tidak memuat 4 orang manusia lagi yang sedang mengalami pertumbuhan(buat anak) dan pemelaran(buat ortu), akhirnya sampailah kami di Lembang. 

Tujuan kami sebenarnya Sumur. Sumur dengan “S” besar. Sebuah tempat yang enak dan berudara segar bagi yang ingin menikmati ragam susu murni ala Lembang. Yang jelas tempat ini merupakan tempat wajib bagi yang suka mengaku anak Bandung nan gaul. Halah.

Setelah menghabiskan  2 gelas yoghurt strawberry dan susu coklat ditemani roti bakar(semua Rp 34.000,00, mahal gila ! ) dan kebandelan Safin dan Kinan akhirnya kami pun pulang. Kami kembali melewati Tahu Lembang dan memutuskan mampir.

Kami penasaran saja karena pernah melihat tayangan Tahu Lembang di salah satu televisi swasta. Sepertinya bagus dengan suasana yang sejuk dan ragam suasana alam disana. 

 

Awal Kejadian Bermula

Nha disinilah kejadian tidak mengenakkan itu bermula. Saat masuk, kami melihat lahan parkir. Saat itu saya melihat sekumpulan motor parkir. Maka saya pun memarkir kendaraan disitu. Kemudian si juru parkir mengatakan kepada saya bahwa sebaiknya parkir di tempat yang dia tunjukkan yang lebih dekat dengan lokasi dan karena ini lahan parkir buat mobil. Insting saya mengatakan kok agak gak beres nih. Tapi ya sudah. Lagian kalau parkir di sana jauh lebih dekat.

Kami pun berpindah dan melihat ada sekelompok motor yang lebih banyak parkir disana. Ketika kami akan memasuki area, tiba-tiba saja seorang perempuan “nyeletuk”. Pak gak boleh masuk pak. Istri saya kontan saja bilang, “Lho gimana sih tadi disana gak boleh, sekarang disini juga gak boleh”. Si perempuan itu dalam keadaan masih duduk dan berbicara dengan seorang pria berkata, ” Maksudnya disini parkirnya Bu”, sambil menunjuk sebuah tempat yang kalau menurut kami hanyalah sebuah lahan taman kecil berumput di sudut bangunan yang tak layak dijadikan parkir. Memang ada beberapa motor disitu, tapi yang jelas tidak lebih dari 8 motor yang bisa tertampung disitu. 

Kami mulai makin merasa tidak enak. Si perempuan tadi dengan sikap yang tidak simpatik dan jauh dari sikap profesional seorang “pelayan” yang harusnya bersikap ramah terhadap konsumen, sungguh membuat kami akhirnya balik badan dan kemudian pulang.

Jika saja si perempuan tadi dengan sikap ramah dan sopan, berdiri dari tempat duduknya, menghentikan pembicaraan dengan si pria dan memastikan kami mendapatkan lahan parkir yang tepat disertai dengan senyuman simpati, maka kami pun pasti kesampaian untuk melahap beberapa tahu yang bau harumnya sudah membuat kami “ngiler” sedari awal. Namun yang terjadi adalah sikap sebaliknya.

Kami mempertanyakan, apakah karena kami hanya naik motor sehingga perlakuan karyawan Tahu Lembang sedemikian acuhnya. Jika memang itu lahan parkir buat motor kenapa tak ada satupun juru parkir yang jumlahnya lebih dari 5 orang yang berada di situ. Demikian pun saat kami akan menyeberang keluar tak ada satupun dari mereka yang berusaha membimbing kami untuk menyeberang jalan dengan rasa aman padahal jelas-jelas mereka membawa “pentungan orange”. Sungguh perlakuan itu tidak pernah kami alami di Bandung(mungkin belum).

Jika memang Tahu Lembang tidak menginginkan konsumen datang dengan motor kenapa tidak diberi peringatan saja di pintu masuk. Jadi di lain waktu ketika kami akan kesana kami akan berpura-pura naik mobil yang mungkin hanya sewaan hanya untuk sekedar menikmati tahu dan suasana yang enak. Jika saya seorang manajer disana, sudah jelas saya akan memecat perempuan tadi(emosi nih). 

Tulisan ini tidak bermaksud untuk menjelek-jelekkan Tahu Lembang karena secara objektif, kami pun merasa tempat itu sangat bagus. Dan mungkin suatu saat ketika rasa sakit hati kami hilang, tidak menutup kemungkinan kami akan kembali kesana, tentu saja dengan mobil. Huh!!

Comments 2 Comments »

Sudah banyak terjadi gugatan malapraktik di Indonesia. Namun sepertinya tembok profesi dokter susah ditembus. Tidak seperti profesi lainnya, yang masih bisa digugat, rupanya benteng profesi ini terutama dengan dukungan organisasi sesolid IDI sangat-sangatlah kuat ibarat rezim.

Posisi Pasien Yang Lemah

Posisi pasien yang mungkin dipandang lemah mungkin disebabkan beberapa faktor. Pertama, adanya anggapan bahwa vonis dan praktik dokter itu ibarat surat sakti yang bebas dari unsur kesalahan. Dokter adalah manusia super pintar yang tidak mungkin lebih bodoh dari yang lainnya. Kedua, adalah sifat konsumen Indonesia sendiri yang belum tahu bahwa dia bisa menuntut haknya sebagai konsumen dalam hal pelayanan kesehatan. Merasa enggan, merasa tidak punya daya, rasa nerimo terutama bagi masyaratkat miskin. Ketiga,sepertinya sistem kesehatan dan undang-undang kesehatan yang kurang mengakomodir hak pasien.

 

Harapan

Dengan semakin tersadarnya pasien akan haknya, kita berharap tembok yang diklaim bebas dari coretan-coretan itu dapat kita jebol. Adanya LBH Kesehatan merupakan salah satunya. Paling tidak masyarakat bisa mempunyai alternatif tempat untuk mengadu. Kedua, adanya Konsil  Kedokteran Indonesia(KKI) yang dibentuk Depkes diharapkan bisa menekan malapraktik. Ketiga, adanya Yayasan Pemberdayaan Konsumen Kesehatan Indonesia (YPKKI).

Fakta Hukum

Secercah harapan sudah mulai terwujud. RS Pondok Indah Didenda Rp2 Miliar Akibat Malapraktik.
Baca disini

 

Pertentangan

Kuping panas tentu saja belakangan ini semakin dirasakan olek kalangan dokter. Mereka yang selama ini merasa nyaman, menjadi kebakaran jenggot dengan semakin banyaknya gugatan-gugatan malapraktik. Lihat saja bahasan di suatu milis dokter (sumber lengkap) :

“Gue nggak getu jago cerita. Jadi kalo ada yang bingung, tanya aja ke gue. Terus kalo ada yang mau diskusi, cari aja gue. Dan kalo ada yang mau ngobrol2 tentang topik ini, ayo. Hal ini penting lho. Menurut gue pribadi. Gue bisa tenang jadi dokter kalo      :
1.ada UU yang dengan pasti bisa melindungi dokter dari
tuduhan malpraktek. Gampangnya sih tiap bagian bikin
SOP yang jelas.   

2.LBHK tutup, Iskandar Sitorus gak ada di Indonesia. ”

 
Saya tidak mengajak untuk bersentimen terhadap dokter. Anda bisa membaca argumen diatas yang lebih lengkap(disini lengkap) dan menyimpulkan sendiri.

Dokter Juga Manusia

Zaman dahulu kala ketika saya terlibat dalam pembangunan sistem informasi akademik di dua perguruan tinggi di Bandung, saya banyak dapat cerita atau lebih tepatnya keluhan dari dosen kedokteran. Mereka bercerita seputar nilai akademis yang dialami mahasiswanya. Hal ini didukung juga oleh data nilai akademis mereka yang mau tidak mau kita pegang dan bisa kita lihat, tanpa ada maksud buruk apalagi mempublikasikannya. 

Mereka juga tadinya mahasiswa, yang bisa dapat nilai buruk. Yang kadang harus mengulang suatu mata kuliah sampai lebih dari 2 kali. Yang kadang harus over study. Persis seperti mahasiswa lainnya. Artinya seorang mahasiswa kedokteran pun ada yang bodoh. Ada yang malas.

Maka jika ada seorang ahli sipil yang menyebabkan sebuah bangunan ternyata tidak kuat menampung beban dan jika ada seorang ahli telematika yang ternyata membuat suatu sistem TI yang justru merugikan dan jika ada seorang ahli ekonomi yang analisis saham nya membuat ribuan nasabahnya merugi, mereka  bisa dituntut, maka apa yang menyebabkan hal itu sulit dilakukan dengan dokter.

 

Profesi Mulia?

Profesi dokter dengan profesi lainnya adalah sama. Sama dalam hal tanggung jawab secara profesional dan moral. Maka seharusnya, jargon yang berbunyi bahwa profesi dokter adalah mulia perlu dipertanyakan lagi. Karena mulia atau tidaknya suatu profesi dinilai dari sumbangsihnya terhadap orang lain. Bukan dari gelar. Seorang pemungut sampah yang jenis pekerjaannya sering dihiraukan oleh orang, bayaran yang diterima pun tidak seberapa, pujian pun tidak ada, malah kadang diskriminasi sosial yang sering diterima, bisa menjadi pekerjaan yang sangat mulia karena jelas sangat membantu orang lain.

Bandingkan dengan dokter. Bandingkan dengan biaya kesehatan yang harus dikeluarkan. Bandingkan dengan gaji dan fasilitas yang diterima dokter. Bandingkan dengan status sosialnya. Logika kasarnya, ketika orang menderita, justru dokter bisa menikmati “bonus” dari usahanya untuk “menolong”.  

Ya, logika barusan bisa dibantah. Bukannya seorang dokter adalah profesional yang harus dibayar.Apalagi biaya pendidikannya sendiri tidak murah, malahan paling mahal dibandung program studi lainnya. Bukannya suatu pelayanan butuh biaya. Betul sekali. Makanya sangat tidak tepat jika jargon “dokter adalah profesi mulia”, karena orientasi dokter adalah sebagai pekerja profesional. Kode etik, sumpah jabatan dan tanggung jawab moral sosial adalah hal lain. Hal yang bisa dipakai atau ditanggalkan.

 

Dokter Mulia

Jika jargon diatas perlu ditiadakan, maka apakah tidak ada dokter yang berwatak mulia. Adalah tidak sedikit jawabannya. Masih ada dokter-dokter yang mengabdi di daerah terpencil. Masih ada dokter yang tidak membebankan biaya terhadap mahasiswa atau orang miskin meskipun dalam konteks praktek pribadi bukan semata-mata karena ada kewajiban jam hadir di puskesmas. Malahan ada dokter yang suka menyelenggarakan bakti sosial kesehatan di masyarakat. Salut buat dokter mulia semacam ini dan perlu kita doakan supaya panjang umur dan masuk surga.

Comments No Comments »

Hari itu gerimis. Karena perut terasa lapar dan kebetulan sedang di luar, saya memutuskan untuk memesan indomie rebus plus bakso sapi. “Enak kali sore-sore dingin begini”,gumam saya. Dan memang enak rasanya. Namun baru setengah porsi, tiba-tiba ada pemandangan yang sebenarnya tak asing lagi. Tak jauh dari pantat saya duduk, ada seorang laki-laki berumur sedang mengais-ngais tempat sampah mencari kertas. Ah saya pikir, dia seorang pemulung biasa karena terlihat karung besar yang dia parkirkan di pinggir jalan. Tapi kemudian mie yang saya makan mendadak menjadi hambar rasanya, ketika melihat laki-laki itu menemukan seplastik kecil makanan berkuah, membuka dengan giginya dan tanpa ragu-ragu memakannya.

Saya menjadi serba salah. Serba tak karuan. Mie hangat seharga 6000 rupiah VS makanan sisa yang dingin dan mungkin basi. Tak adil rasanya. “Miris” hati ini rasanya. Buru-buru saya habiskan mie dan segera membayar. Sisa dari 20 ribu rupiah yang saya terima sebagian saya berikan kepada laki-laki itu.

 

Kagum

Dibalik rasa iba saya, timbul rasa kekaguman. Laki-laki itu tampak sehat dan bugar. Tak peduli dengan gerimis hujan, asyik saja dia dengan pekerjaannya. Jika saya mungkin sudah masuk angin hanya karena 5 menit basah oleh air hujan. Saya berpikiran, makanan tadi pasti bukan yang pertama kalinya buat laki-laki itu. Dan bisa jadi saya adalah saksi yang kesekian kalinya.  

 

Bukan Pengemis

Saya paling benci pengemis. Dan saya paling pelit dengan pengemis. Entah mengapa rasa iba saya selalu bisa dikalahkan olek kebencian saya terhadap pengemis. Apalagi dengan pengemis yang selalu membawa anak kecil atau bayi. Bukan terhadap bayi atau anak kecilnya, yang justru saya merasa sangat kasihan karena mereka tidak menjalani hidup normal gara-gara orang tua yang pemalas atau korban eksploitasi sindikat. 

Faktanya adalah bahwa pengemis tidak semiskin yang kita bayangkan. Jika tiap orang bisa memberikan paling tidak 500 rupiah, maka jika dalam sehari pengemis bisa “mengetuk hati” atau setidaknya membuat risi  40 orang sehingga mau memberikan uangnya, maka uang yang akan terkumpul adalah 20 ribu. Jika dikalikan 30 hari, maka dalam sebulan akan terkumpul 600 ribu. 

Gaji asisten rumah saya sebulannya adalah 300 ribu. Itu sudah rate paling tinggi di daerah saya (Bandung hampir coret), meskipun sistem kerjanya seperti puasa Nabi Daud. Jika masuk setiap hari tinggal kalikan dua saja. 

Mungkin pengemis lebih jenius. “Working smarter is always better than working harder “, bukan? Tapi faktanya, anak pengemis tidak akan mendapatkan haknya sebagai anak. Pendidikan, perlindungan dari kekerasan dan eksploitasi seks, kesehatan, berbudaya dan sipil jelas tidak akan mereka dapatkan. Bandingkan dengan anak asisten saya yang sudah mengenyam pendidikan dari TK hingga sekarang SD. Bisa menikmati siaran TV berbayar yang lebih edukatif. Mendapatkan perlindungan dan kasih sayang. Bisa bermain sebagaimana layaknya anak sebayanya.

Laki-laki itu mungkin memang tidak seberuntung asisten saya. Tapi hal yang membuat saya selalu kagum adalah bahwa dia bukanlah seorang peminta-minta. Dia masih punya kemampuan untuk mengais rejeki meski bagi kebanyakan orang terlihat menjijikan. Tapi jika hal itu menjijikkan dan dipandang tidak sehat, lalu kenapa dalam kenyataannya badannya lebih “fit” daripada saya yang mungkin secara teori lebih memenuhi standar hidup sehat. Mungkin kalau saya harus berhujan-hujan, meski hanya 5 menit saya akan bangun pagi dengan kepala pusing dan hidung “meler”. Mungkin kalau saya coba melahap makanan basi dan kotor maka saya akan sakit perut dan diare seharian sekaligus membuat orang serumah malas pergi ke toilet. Itulah alasan saya mengapa dengan suka rela saya mendatangi laki-laki itu dan memberikan uang yang tak seberapa jumlahnya (semoga bisa bermanfaat) sekaligus rela berbasah-basah.

Ada rasa iri. Ada rasa “kalah”.Dan akhirnya ada rasa malu. Sang Sutradara mungkin punya cerita sendiri dengan sengaja menampilkan laki-laki itu.

Comments No Comments »